![]() | Rumah Kontainer | ![]() | Rumah Kontainer |
| Rumah Jenis ini sangat mudah diatur dan dirawat dengan baik. Bahkan bias menjadi dambaan para keluarga bahagia. | Rumah Jenis ini sangat mudah diatur dan dirawat dengan baik. Bahkan bias menjadi dambaan para keluarga bahagia. | ||
| A-1085 | Rp. 25.000,- | B-1085 | Rp. 35.000,- |
![]() | Rumah Kontainer | ![]() | Rumah Kontainer |
| Rumah Jenis ini sangat mudah diatur dan dirawat dengan baik. Bahkan bias menjadi dambaan para keluarga bahagia. | Rumah Jenis ini sangat mudah diatur dan dirawat dengan baik. Bahkan bias menjadi dambaan para keluarga bahagia. | ||
| A-1085 | Rp. 25.000,- | B-1085 | Rp. 35.000,- |
![]() | Rumah Kontainer | ![]() | Rumah Kontainer |
| Rumah Jenis ini sangat mudah diatur dan dirawat dengan baik. Bahkan bias menjadi dambaan para keluarga bahagia. | Rumah Jenis ini sangat mudah diatur dan dirawat dengan baik. Bahkan bias menjadi dambaan para keluarga bahagia. | ||
| A-1085 | Rp. 25.000,- | B-1085 | Rp. 35.000,- |
![]() | Rumah Kontainer | ![]() | Rumah Kontainer |
| Rumah Jenis ini sangat mudah diatur dan dirawat dengan baik. Bahkan bias menjadi dambaan para keluarga bahagia. | Rumah Jenis ini sangat mudah diatur dan dirawat dengan baik. Bahkan bias menjadi dambaan para keluarga bahagia. | ||
| A-1085 | Rp. 25.000,- | B-1085 | Rp. 35.000,- |
Produk Baru
Produk
Globalisasi sudah menjadi kenyataan yang telah ada sejak lama, Percepatan globalisasi semakin nyata melalui perkembangan komunikasi data. Dalam globalisasi batas negara hampir tidak ada, perjanjian WTO mempertegas hal ini. Setiap negara anggota WTO akan menurunkan bea masuk tarif impor sehingga diharapkan ekonomi negara anggota akan berkembang sesuai spesialisasi produk masing-masing negara. Meskipun demikian pemain besar globalisasi adalah negara maju melalui koorporasi besar yang memiliki keunggulan politik, ekonomi dan teknologi.
Paradigma globalisasi pada hakekatnya adalah neo kolonialisme yang di perkirakan akan terjadi oleh salah seorang founding father Indonesia “Bung Karno”. Sejarah bangsa-bangsa maju yang nota bene adalah agresor atau penjajah yang telah menikmati hasil jajahan mereka di masa lalu sehingga mereka dapat menggunakannya pada kepentingan inovasi produk mereka. Bila dianalogikan negara maju dengan negara berkembang dalam globalisasi adalah pertempuran antara “David” dengan “Gooliath” sehingga kompetisi yang terjadi adalah kompetisi yang tidak adil sama sekali.
Globalisasi memang sudah diciptakan sejak lama oleh bangsa2 maju melalui pemberian hutang secara kontinu kepada negara yang memiliki kekayaan alam sehingga bangsa-bangsa ini menjadi tergantung pertumbuhan ekonominya kepada hutang. Para agen globalisasi membuat laporan-laporan yang bagus mengenai negara obyek, Bank dunia, IMF dan ADB merupakan kepanjangan tangan dari negara G7 yang menguasai ekonomi lebih dari 70 % di dunia.
Akibatnya adalah negara yang “Kaya” seperti halnya indonesia dibuat tidak berdaya akan hutang, masih ingat dalam ingatan kita bahwa dalam masa orde baru kita disebut-sebut macan asia, pertumbuhan ekonominya lebih dari rata-rata, infrastruktur pada saat itu dibangun dengan terencana, harga pangan murah, harga bahan bakar murah dsb. Tapi segala macam itu dibangun dengan hutang. Hal ini diperparah dengan praktek korupsi yang merajalela, dan apabila dampak hutang luar negeri terhadap ekonomi indonesia diambil sebagai penelitian disertasi ada hipotesa bahwa yang menjadi asset pembangunana yang bersumber dari hutang luar negeri hanya 50 % dan sisanya menguap kepada koruptor baik dalam maupun luar negeri.
Apabila kita bayangkan keuangan suatu negara ke dalam suatu perusahaaan, maka perusahaan layak diberi hutang apabila perbandingan antara equity dengan kewajibannya adalah lebih besar atau sama dengan satu. Artinya ekuitas dari suatu negara harus lebih besar daripada kewajibannya. Sebaliknya yang terjadi dengan Indonesia saat itu jumlah kewajiban dibandingkan dengan ekuitas jauh lebih besar, namun negara donor terus memberikan bantuan mengingat asset yang dimiliki bangsa kita sangat besar dan diyakini akan cukup untuk membayar hutang tsb.
Krisis moneter 1998 adalah cairnya puncak gunung es dari candu hutang yang dilakukan pemerintah orde baru, masih ingat dalam ingatan kita bagaimana mantan presiden soeharto terpaksa menandatangani perjanjian “obat mujarab” dengan IMF. Dengan bersila tangan Mr. Camdessus menyaksikan pak Harto menandatangani perjanjian obat mujarab itu. Padahal resep IMF bukanlah mujarab melainkan tambahan racun yang di buat untuk mendorong terjadinya gejolak di masyarakat sehingga timbul kerusuhan akibat akumulasi kekacauan ekonomi dengan ditutupnya 16 bank, kenaikan harga bbm, dicabutnya beberapa subsidi bahan pokok dsb.
Setelah pak Harto lengser kemudian reformasi digulirkan, banyak kemajuan dari segi ketatanegaraan bangsa kita yang kemudian menjadi salah satu bangsa besar demokrasi. Namun demikian sektor birokrasi dan hukum nyaris tidak berubah, motto kalau masih bisa dipersulit kenapa harus dipermudah masih menjadi paradigma birokrat sementara aparat hukum makin semrawut dengan keputusan hukumnya yang lebih berpihak kepada yang kuat secara politik dan ekonomi. Sudah capek rasanya kita melihat koruptor dihukum lebih rendah daripada maling kambuhan dan ini hanya terjadi dibumi yang kita cintai yang bernama Indonesia. Selain itu reformasi di anggap oleh sebagian besar rakyat hanyalah membawa kesulitan dimana harga bahan pokok mahal dan bbm tinggi, meskipun kondisi saat ini tidak dapat diputuskan dari kisah masa lalu bangsa penghutang ini.
Paradigma globalisasi pada hakekatnya adalah neo kolonialisme yang di perkirakan akan terjadi oleh salah seorang founding father Indonesia “Bung Karno”. Sejarah bangsa-bangsa maju yang nota bene adalah agresor atau penjajah yang telah menikmati hasil jajahan mereka di masa lalu sehingga mereka dapat menggunakannya pada kepentingan inovasi produk mereka. Bila dianalogikan negara maju dengan negara berkembang dalam globalisasi adalah pertempuran antara “David” dengan “Gooliath” sehingga kompetisi yang terjadi adalah kompetisi yang tidak adil sama sekali.
Globalisasi memang sudah diciptakan sejak lama oleh bangsa2 maju melalui pemberian hutang secara kontinu kepada negara yang memiliki kekayaan alam sehingga bangsa-bangsa ini menjadi tergantung pertumbuhan ekonominya kepada hutang. Para agen globalisasi membuat laporan-laporan yang bagus mengenai negara obyek, Bank dunia, IMF dan ADB merupakan kepanjangan tangan dari negara G7 yang menguasai ekonomi lebih dari 70 % di dunia.
Akibatnya adalah negara yang “Kaya” seperti halnya indonesia dibuat tidak berdaya akan hutang, masih ingat dalam ingatan kita bahwa dalam masa orde baru kita disebut-sebut macan asia, pertumbuhan ekonominya lebih dari rata-rata, infrastruktur pada saat itu dibangun dengan terencana, harga pangan murah, harga bahan bakar murah dsb. Tapi segala macam itu dibangun dengan hutang. Hal ini diperparah dengan praktek korupsi yang merajalela, dan apabila dampak hutang luar negeri terhadap ekonomi indonesia diambil sebagai penelitian disertasi ada hipotesa bahwa yang menjadi asset pembangunana yang bersumber dari hutang luar negeri hanya 50 % dan sisanya menguap kepada koruptor baik dalam maupun luar negeri.
Apabila kita bayangkan keuangan suatu negara ke dalam suatu perusahaaan, maka perusahaan layak diberi hutang apabila perbandingan antara equity dengan kewajibannya adalah lebih besar atau sama dengan satu. Artinya ekuitas dari suatu negara harus lebih besar daripada kewajibannya. Sebaliknya yang terjadi dengan Indonesia saat itu jumlah kewajiban dibandingkan dengan ekuitas jauh lebih besar, namun negara donor terus memberikan bantuan mengingat asset yang dimiliki bangsa kita sangat besar dan diyakini akan cukup untuk membayar hutang tsb.
Krisis moneter 1998 adalah cairnya puncak gunung es dari candu hutang yang dilakukan pemerintah orde baru, masih ingat dalam ingatan kita bagaimana mantan presiden soeharto terpaksa menandatangani perjanjian “obat mujarab” dengan IMF. Dengan bersila tangan Mr. Camdessus menyaksikan pak Harto menandatangani perjanjian obat mujarab itu. Padahal resep IMF bukanlah mujarab melainkan tambahan racun yang di buat untuk mendorong terjadinya gejolak di masyarakat sehingga timbul kerusuhan akibat akumulasi kekacauan ekonomi dengan ditutupnya 16 bank, kenaikan harga bbm, dicabutnya beberapa subsidi bahan pokok dsb.
Setelah pak Harto lengser kemudian reformasi digulirkan, banyak kemajuan dari segi ketatanegaraan bangsa kita yang kemudian menjadi salah satu bangsa besar demokrasi. Namun demikian sektor birokrasi dan hukum nyaris tidak berubah, motto kalau masih bisa dipersulit kenapa harus dipermudah masih menjadi paradigma birokrat sementara aparat hukum makin semrawut dengan keputusan hukumnya yang lebih berpihak kepada yang kuat secara politik dan ekonomi. Sudah capek rasanya kita melihat koruptor dihukum lebih rendah daripada maling kambuhan dan ini hanya terjadi dibumi yang kita cintai yang bernama Indonesia. Selain itu reformasi di anggap oleh sebagian besar rakyat hanyalah membawa kesulitan dimana harga bahan pokok mahal dan bbm tinggi, meskipun kondisi saat ini tidak dapat diputuskan dari kisah masa lalu bangsa penghutang ini.
Pemasaran Tujuh
Marketing is an organizational function and a set of processes for creating, communicating, and delivering value to customers and for managing customer relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders.[1] It generates the strategy that underlies sales techniques, business communication, and business developments.[2] It is an integrated process through which companies build strong customer relationships and create value for their customers and for themselves.[2]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Pemasaran Enam
Marketing is an organizational function and a set of processes for creating, communicating, and delivering value to customers and for managing customer relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders.[1] It generates the strategy that underlies sales techniques, business communication, and business developments.[2] It is an integrated process through which companies build strong customer relationships and create value for their customers and for themselves.[2]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Pemasaran Lima
Marketing is an organizational function and a set of processes for creating, communicating, and delivering value to customers and for managing customer relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders.[1] It generates the strategy that underlies sales techniques, business communication, and business developments.[2] It is an integrated process through which companies build strong customer relationships and create value for their customers and for themselves.[2]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Pemasaran Empat
Marketing is an organizational function and a set of processes for creating, communicating, and delivering value to customers and for managing customer relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders.[1] It generates the strategy that underlies sales techniques, business communication, and business developments.[2] It is an integrated process through which companies build strong customer relationships and create value for their customers and for themselves.[2]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Pemasaran Tiga
Marketing is an organizational function and a set of processes for creating, communicating, and delivering value to customers and for managing customer relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders.[1] It generates the strategy that underlies sales techniques, business communication, and business developments.[2] It is an integrated process through which companies build strong customer relationships and create value for their customers and for themselves.[2]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Pemasaran Dua
Marketing is an organizational function and a set of processes for creating, communicating, and delivering value to customers and for managing customer relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders.[1] It generates the strategy that underlies sales techniques, business communication, and business developments.[2] It is an integrated process through which companies build strong customer relationships and create value for their customers and for themselves.[2]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Pemasaran Sip
Marketing is an organizational function and a set of processes for creating, communicating, and delivering value to customers and for managing customer relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders.[1] It generates the strategy that underlies sales techniques, business communication, and business developments.[2] It is an integrated process through which companies build strong customer relationships and create value for their customers and for themselves.[2]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
Marketing is used to identify the customer, satisfy the customer, and keep the customer. With the customer as the focus of its activities, it can be concluded that marketing management is one of the major components of business management. Marketing evolved to meet the stasis in developing new markets caused by mature markets and overcapacities in the last 2-3 centuries.[citation needed] The adoption of marketing strategies requires businesses to shift their focus from production to the perceived needs and wants of their customers as the means of staying profitable.[citation needed]
The term marketing concept holds that achieving organizational goals depends on knowing the needs and wants of target markets and delivering the desired satisfactions.[3] It proposes that in order to satisfy its organizational objectives, an organization should anticipate the needs and wants of consumers and satisfy these more effectively than competitors.[3]
SDM
Pada bagian pertama, kita telah mengungkapkan makna „A-J“ sebagai satu kekuatan untuk mengetuk dinding jiwa, dalam rangka untuk mengingatkan pada diri kita bahwa membangun „Akhlak adalah suatu usaha yang bergerak sepanjang perjalan hidup ini untuk menjadikan manusia dapat hidup aman, tenteram dan rukun damai“
Oleh karena itu ingatlah selalu bahwa Allah tidak merubah nasib sesuatu bangsa (diri) sebelum dia sendiri mengusahakannya“
Bertolak dengan pikiran diatas, maka menemukan jati diri, bukanlah sesuatu yang mudah untuk diamalkan dalam hidup ini, tetapi akan menjadi satu kekuatan bila daya kemauan yang kuat untuk menjalankannya sehingga terbentukekuatan pikiran menjadi kebiasaan dan secara tidak langsung manusia akan menemukan jati dirinya
Oleh karena itu, maka kebiasaan yang ditopang dengan keinginan yang berlandaskan niat, maka ilmu sebagai informasi, pengetahuan dari pengalaman sebagai keterampilan, menjadi unsur (ilmu, pengetahuan, keinginan) yang sangat menentukan kedalam kekuatan pikiran yang membetuk watak manusia. Jadi ketiga unsur tersebut yang mengetuk dinding jiwa sebagai alat pikiran kedalam unsur jiwa yang disebut „kesadaran, kecerdasan dan akal) sebagai kekuatan yang mendorong, mengapa manusia berpikir.
Dengan demikian, apa-apa yang kita utarakan dalam BAGIAN KEDUA yang mengungkapkan kata K, kedalam makna sebagai benih-benih pikiran kedalam satu kekuatan kerajaan pikiran manusia.
Benih-benih pikiran tersebut yang menuntun sikap dan perilaku manusia yang mampu untuk mereka dapat mengungkit seluruh ingatan agar manusia dapat berusaha memikirkan hal-hal yang terbayangkan mengenai usaha
manusia kedalam pikiran mengenai „Akan ditimpakan kepada mereka kehinaan di mana saja mereka berada kecuali kalau mereka menjaga tali hubungan dengan Allah dan tali hubungan dengan manusia“
Merenung, membaca dan belajar apa-apa yang terungkap dalam makna kata K dalam bagian dua ini diharapkan menjadi satu kekuatan untuk menuntun, apa-apa yang kita pikirkan dalam membangun akhlak / moral sepanjang hidup yang kita jalani.
Pada kata K yang paling banyak terungkap dalam Al Qur’an dengan pendekatan 7M seperti yang kami utara-kan dalam bagian pertama merupakan satu pendekatan untuk dapat meningkatkan daya kemauan yang kuat agar kita mampu berpikir dalam memecahkan masalah hidup ini seperti kta memikirkan satu kekuatan sebagai alat pertimbangan dalam memanfaatkan alat pikir (kesadaran, kecerdasan, akal) kedalam pikiran kita mengenai :1) Akal mengalahkan nafsu ; 2) Iman mempertimbangkan perbuatan ; 3) Yakin mengurangkan marah ; 4) Rasa keadilan hendak memiliki kepunyaan orang lain : 5) Kebenaran menumbangkan kekuasaan
27. KEBAIKAN
Kebaikan adalah sifat yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku manusia yang dituntun oleh sesuatu kekuatan dari keyakinan dan kepercayaan dalam nilai dan norma yang dianutnya.
Cobalah renungkan dari kekuatan nilai dan norma dalam Al Qur’an dan surat agar dapat menjadi penuntun seperti yang terungkap dibawah ini :
QS. 2 : 44” Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?
QS. 2 : 128” Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
QS. 2 : 195” Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
QS. 3 : 115” Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala) nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.
QS. 7 : 58” Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.
QS. 10 : 26” Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.
QS. 16 : 30” Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,
QS. 20 : 112” Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.
QS. 23 : 96” Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.
QS. 41 : 34” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.
-35“ Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.
-36“ Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
QS. 98 : 7“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
-8“ Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Jadi wujud kebaikan bagi setiap manusia haruslah menjadi pedoman dalam hidup untuk berbuat sesuatu yang di ridhoi oleh Allah Swt. Lebih lanjut dapat pula kita ketemukan dalam surat dan ayat dibawah ini :
QS. 2 : 112,148,158,184,195,197,200,201,269,286
QS.4 : 160 ; QS. 7 : 8,9,56,58,155,156, 157,204
QS. 8 : 17,23,70 QS. 9 : 37, 41, 50,52,53,74,88, 91,107 ; QS. 10 : 22,107 ; QS. 11 : 3,114,117
QS. 12 : 11,83 ; QS. 13 : 6, 18,22
QS. 16 : 32,62,122 ; QS. 17 : 7 ;QS. 42 : 23,40
QS. 46 : 15 (silahkan dibuka). Oleh karena itu, bentuklah kekuatan kebiasaan pikiran kita kedalam pendekatan 7 M, sebagai suatu pendekatan untuk mendorong daya kemauan yang kuat dalam mengamalkan sifat kebaikan dalam hidup ini.
KESIMPULAN
Bertolak dari pemahaman atas kekuatan 7 M, apa yang terungkap dalam surat dan ayat yang terus kita pikirkan dan merenungkan kemali bahwa setiap manusia akan „Diuji dengan kebaikan dan keburukan“ seperti yang tertuang dalam QS. 39 : 10“ Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.“
Dengan kekuatan pikiran diatas, maka dorongan menyelami bahwa „ Allah maha melimpahkan kebaikan“ seperti yang termuat dalam QS. 52 : 28“ Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.
Oleh karena itu, „Berlomba dengan kebaikan“
QS. 2 : 148“ Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu“
Menjadi satu kebutuhan bagi manusia yang sadar dalam apa yang disebut „Kebaikan duniawi bagi yang berbuat ihsan“
Sejalan dengan pikiran diatas, renungkan makna bahwa „Baik dan buruk kehendak Tuhan“ seperti yang terungkap dalam surat dan ayat sbb.:
QS.64 : 11“ Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Dengan mengungkapkan hal-hal yang kita sebut-kan diatas, mampu menuntun kekuatan brpikir agar menemukan apa yang disebut dengan „ Kesadaran manusia untuk memilih yang baik dan buruk“ sangat bergantung pada kemampuan manusia memanfaatkan kebiasaan berpikir dalam usaha mencari kebenaran.
Oleh karena itu renungkan apa-apa yang tertuang dalam surat dan ayat dibawah ini, sebagai satu kekuatan untuk mendorong perubahan sikap dan perilaku dalam mengamalkan makna „ baik dan memperbaiki diri :
QS. 90 : 10” Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.
QS. 91 : 8” maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
QS. 8 : 1” Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”
Akuntansi Ok
Makalah manajemen Akuntansi.
Pengertian Akuntansi manajemen adalah bagian dari pengertian akuntansi yang bertujuan membantu manajer untuk menjalankan tiga fungsi pokoknya, yaitu perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan. Kehadiran akuntansi manajemen atau sistem informasi manajemen dalam perusahaan merupakan suatu sistem yang akan memberikan informasi kepada manajemen untuk membantu pihak-pihak internal untuk mencapai tujuan organisasinya.
Pengertian Akuntansi manajemen adalah bagian dari pengertian akuntansi yang bertujuan membantu manajer untuk menjalankan tiga fungsi pokoknya, yaitu perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan. Kehadiran akuntansi manajemen atau sistem informasi manajemen dalam perusahaan merupakan suatu sistem yang akan memberikan informasi kepada manajemen untuk membantu pihak-pihak internal untuk mencapai tujuan organisasinya.
Teknik-teknik dalam akuntansi manajemen membantu manajemen dalam menjalankan fungsi manajemen. Misalnya, menyusun anggaran (budget), melakukan analisis cost, volume, propit (CVP), analisis varian, dan pemilihan sistem pembebanan biaya yang tepat untuk penentuan harga jual. Pemilihan metode ini akan mempengaruhi keakuratan pembebanan biaya ke produk sehingga manajer dapat dengan tepat menentukan harga jual. Dengan demikian, dapat unggul dan bersaing dalam harga.
Dewasa ini pembebanan biaya secara konvensional sudah mulai ditinggalkan dan beralih ke pembebanan biaya berdasarkan aktivitas/activity based costing system (ABC-system). Dalam perkembangan akuntansi manajemen banyak sekali isu kontemporer dalam teknik-teknik manajemen mulai diterapkan, seperti metode just in time (JIT), total quality management (TQM), target costing, dan orientasi pelanggan.
Penilaian kinerja manajer saat ini sudah mulai mengalami pergeseran. Jika dahulu menilai kinerja seorang manajer cukup hanya dari perspektif keuangan, tetapi sekarang untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif harus dari dua perspektif yang dikenal dengan istilah balanced scorecard. Penilaian kinerja akan dilakukan dari dua sisi, yaitu keuangan (financial) dan non financial seperti penilaian pelanggan/ customer, pertumbuhan dan pembelajaran, serta proses bisnis internal.
Artikel terbaru mengenai akuntansi manajemen ditulis oleh Birnberg G. Jacod (2000) yang membahas tentang peranan riset keperilakuan dalam pendidikan akuntansi manajemen pada abad ke dua puluh satu. Birnberg menjelaskan bahwa materi akuntansi manajemen dalam tiga periode setelah Perang Dunia Kedua berakhir meliputi periode akuntansi biaya (the cost-accounting period), periode akuntansi manajemen modern (the modern management accounting period), periode akuntansi manajemen postmodern (The post-modern management accounting period). Fokus terbaru dalam akuntansi manajemen seperti dijelaskan oleh Hansen dan Mowen (2005) adalah activity based management,customer orientation, cross-functional perspective, total quality management, time as competitive element, efficiency dan E-business.
Dalam Pengertian Akuntansi manajemen sangat erat berkaitan dengan manusia. Kajian atau studi di bidang akuntansi manajemen mendapat perhatian bagi riset akuntansi di bidang keperilakuan. Kegagalan dalam hal pencapaian kinerja sebenarnya akibat dari aspek keperilakuan. Perilaku (behavior) adalah tindakan-tindakan (actions) atau reaksi (reaction) dari suatu objek atau organisme (Jogiyanto, 2007). Supaya lebih benar Download Pengertian Akuntansi Manajemen Lebih lengkap terperinci Makalah manajemen akuntansi.
Langganan:
Postingan (Atom)

